Hari Talasemia Sedunia, Perlu Konsultasi Talasemia Sebelum Menikah - rumahsakitNews - Indonesia's Health Care News

Hari Talasemia Sedunia, Perlu Konsultasi Talasemia Sebelum Menikah

JAKARTA, JO - Hari Talasemia Sedunia jatuh pada 8 Mei. Peringatan ini diharapkan bisa memotivasi generasi muda untuk melakukan konsultasi talasemia sebelum menikah untuk mencegah keturunan dengan talasemia.

Penyakit kelainan sel darah merah ini merupakan warisan genetik dari orang tua yang membawa sifat talasemia, di samping Indonesia merupakan salah satu negara dengan risiko tinggi talasemia.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Lily Sulistyowati, di Jakarta, Senin (8/5), mengatakan, masyarakat perlu mengetahui penyakit kelainan sel darah merah atau talasemia dan bahayanya, serta cara mencegah dan mengendalikan peningkatan kasus penyakit tersebut.

“Awareness ini sangat penting untuk pencegahan dan pengendalian talasemia,” kata Lily Sulistyowati.

Berdasarkan data dari Yayasan Thalasemia Indonesia, jumlah kasus penyakit talasemia per Mei 2017 mencapai 8.011, atau meningkat dibanding tahun 2015 yang berjumlah 7.029 kasus. Jumlah tersebut juga meningkat drastis bila dibandingkan pada 2011 yang hanya 4.431 kasus.

Menurut Lily, penyakit talasemia perlu disosialisasikan agar lebih banyak masyarakat yang mengetahui mengenai penyakit tersebut beserta faktor risiko, gejala, dan dampak yang diakibatkan. Lily menjelaskan

Pada seseorang yang mengidap talasemia mayor hanya dapat bertahan hidup dengan penanganan transfusi darah secara rutin setiap bulan seumur hidup dan konsumsi obat kelasi besi, atau pengontrol kelebihan zat besi karena transfusi darah, setiap hari seumur hidup. Namun, seseorang dengan talasemia minor bisa hidup normal karena tidak mengalami gejala pada tubuh, kendati bisa mewariskan gen talasemia pada anaknya.

Kedua orang tua yang pembawa sifat talasemia minor kemungkinan 100 persen seluruh anaknya bisa mengidap talasemia minor ataupun mayor. Oleh karena itulah, kata Lily, penting deteksi dini pembawa sifat talasemia dengan pemeriksaan talasemia sebelum menikah untuk menghindari perkawinan sesama pembawa sifat talasemia.

Dokter dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo dan Divisi Hematologi-Onkologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Pustika Amalia Wahidiyat, mengatakan pengidap talasemia tanpa transfusi darah usianya diperkirakan tidak mencapai lima tahun.

Sementara itu, pengidap dengan transfusi darah secara rutin satu bulan sekali bisa sampai 20 tahun, dan pengidap dengan perawatan transfusi darah dan pengobatan besi secara rutin bisa mencapai 40 tahun.

Pustika Amalia menyebutkan Indonesia merupakan salah satu negara yang berisiko tinggi terhadap penyakit talasemia. Menurutnya, seseorang dengan talasemia tidak bisa memproduksi sel darah merah dengan benar sehingga menyebabkan anemia. (rs-2)

Tidak ada komentar:

Rumahsakit.co tidak bertanggung jawab atas isi komentar yang ditulis. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Diberdayakan oleh Blogger.